Sabtu, 03 November 2012

PERANG SALIB

Perang Salib


Pendahuluan.
Pada tahun 1000-an telah terjadi suatu perang yang amat besar dan berkepanjangan yang di sebut dengan Perang salib. sebagai penyebabbya adalah "Tanah Suci" (Israel-palestina sekarang) secara silih berganti di duduki atau dikuasai oleh Raja-raja Islam. Dalam perang tersebut, para prajurit kristen memang menggunakan tanda-tanda Salib pada pakaian dan persenjataan mereka, selain memang dipinpin oleh Raja Kristen.
perang salib berlangsung berkepanjangan, bahkan bangsa-bangsa Barat yang ada di daratan Eropa yang berdatangan ke Indonesia pada akhir abad ke-16 masih di liputi oleh suasana perang tersebut. Sebagai akibatnya adalah terjadinya konflik dengan pedagang-pedagang islam dari Timur Tengah yang terlebih dahulu datang ke Indonesia. namun ada dampak positif dari perang tersebut, yaitu terjadinya kontak budaya.
Para bangsa-bangsa Eropa yang berdatangan ke indonesia menyaksikan kemewahan-kemewahan yang tidak mereka jumpai di Eropa. Mereka juga mulai menyadari dan mengakui kebudayaan di Timur Tengah dan Asia tidak ketinggalan dengan bangsa Eropa seperti halnya dalam bidang kerajinan, kesenian, teknologi. Bahkan mereka juga mulai mengenal komuditas rempah-rempah baru seperti lada, cengkeh, dan sebagainya.
Perkembangan selanjutnya adalah terjadinya kontak perdagangan antara Barat dan Timur yang sangat menguntungkan bangsa-bangsa Barat.


Eropa Menjelang Perang Salib
Asal mula ide Perang Salib adalah perkembangan yang terjadi di Eropa Barat sebelummnya pada abad pertengahan. Selain itu juga menurunnya pengaruh Kekaisaran Byzantium di Timur yang di sebabkan oleh gelombang baru serangan Muslim Turki. Pecahnya kekaisaran Karolingian pada kahir abadke-9, di kombinasikan dengan stabilnya peradapan Eropa sesudah pengkristenan bangsa-bangsa Viking, Slavia, dan Magyar, telah membuat kelas petarung bersenjata yang energinya digunakan secara salah untuk bertengkar satu satu sama lain dan meneror penduduk setempat.
Gereja berusaha untuk menekan kekerasan yang terjadi melalui gerakan-gerakan Pax Dei dan Treuga Dei.   Usaha ini dinilai berhasil, tetapi para kesatria yang berpengalaman selalu mencari tempat untuk menyalurkan kekuatan mereka dan kesempatan memperluas daerah kekuasaan pun menjadi semakin tidak menarik. Pengecualiannya adalah saat terjadi Reconquista di Spanyol dan Portugis. Pada saat itu kesatria-kesatria dari Iberia dan pasukan lain dari beberapa tempat di Eropa bertempur melawan pasukan MoorIslam yang sebelumnya berhasil menyerang dan menaklukkan sebagian besar semenanjung Iberia dalam kurun waktu 2 abad dan menguasainya selama kurang lebih 7 abad.
Pada 1063, Paus Alexander II memberikan restu kepausan bagi kaum Kristen Iberia untuk memerangi kaum Muslim. Paus memberikan restu kepausan standart dan pengampunan bagi siapa saja yang terbunuh dalam peperangan tersebut. Pemerintah yand datang dari Kekaisaran Byzantium yang sedang terancam oleh ekspansi kaum Muslim Seljuk, menjadi perhatian semua orang di Eropa. Hal ini terjadi pada tahun 1074, dari kekaisaran Michael VII kepada Paus Georgeus VII dan sekali lagi pada 1095, dari kaisar Alexius I Comnenus kepada Paus Urbanus II.
Perang salib adalah sebuah gambaran dari dorongan keagamaan yang itens yang merebak pada akhir abad ke-11 di masyarakat. Seorang tentara Saalib, sesudah memberi sumpah sucinyan akan menerima sebuah Salib dari Paus atau wakilnya dan sejak saat itu akan dianggap sebagai “tentara Gereja” . hal ini sebagian disebabkan adanya Kontoversi Investiture yang berlangsung mulai 1075 dan masih berlangsung selama Perang Salib I.
Oleh karena dua belah pihak yang terlibat dalam kontraversi Investiture berusaha untuk menarik pendapat publik, masyarakat menjadi terlibat secara pribadi dalam pertentangan keagamaan yang dramatis. Hasilnya adalah kebangkitan semangat kristen dan ketertarikan publik pada maslah-masalah keagamaan. Hal ini kemudian diperkuat oleh propoganda keagamaan tentang Perang  untuk keadilan untuk mengambil kembali Tanah Suci yang termasuk Yerusalem (dimana kematian, kebangkitan dan pengangkatan Yesus Ke Surga terjadi menurut ajaran Kristen) dan Antiokia (kota Kristen yang pertama) dari orang Muslim.
Selanjutnya, “penebusan Dosa” adalah faktor penentu dalam hal ini. Ini menjadi dorongan bagi setiap orang yang merasa pernah berdosa untuk mencapai cara menghindari dari kutukan abadi di Neraka.  Persoalan ini diperdebatkan dengan hangat oleh para Tentara Salib tentang apa sebenarnya arti dari “penebusan Dosa” itu. Kebanyakan mereka percaya bahwa dengan merebut Yerusalem kembali, mereka akan dijamin masuk surga pada saat mereka meninggal dunia. Akan tetapi, kontravensi yang terjadi adalah apa sebenarnya yang dijanjikan oleh Paus yang berkuasa Pada saat itu.
Suatu teori menyatakan bahwa jika seseorang gugur ketika bertempur untuk Yerusalem lah “penebus Dosa” itu berlaku. Teori ini mendekati kepada apa yang diucapkan oleh Paus Urbanus II dalam pidato-pidatonya. Ini berarti bahwa jika para tentara salib berhasil merebut Yerusalem,orang-orang yang selamat dalam pertempuran tidak akan diberikan “penebusan”. Teori yang lain menyebutkan bahwa jika seseorang telah sampai ke Yerusalem, orang tersebut akan dibebaskan dari dosa-dosanya sebelum perang salib. Oleh karena itu, orang tersebut  akan tetap bisa masuk neraka bila melakukan dosa setelah Perang Salib. Seluruh faktor inilah yang memberikan dukungan masyarakat kepada Perang Salib I dan kebangkitan keagamaan pada abad ke-12.
Timur Tengah Menjelang Perang Salib
Keberadaan Muslim di Tanah Suci harus dilihat sejak penaklukan bangsa Arab terhadap Palestina dari tangan kekaisaran Bizantium pada abad ke-7. Hal ini sebenarnya tidak telalu mempengaruhi penziarahaan ke tempat-tempat suci kaum Kristiani di Tanah Suci Kristen ini.  Sementara itu, bangsa-bangsa di Eropa Barat tidak terlalu perduli atas dikuasainya Yerusalem yang berada jauh di Timur sampai ketika mereka sendiri mulai menghadapi invasi dari orang-orang Islam dan bangsa-bangsa non-Kristen lainnya seperti bangsa Viking dan Magyar. Akan tetapi, kekuatan bersenjata kaum Muslim Turki Seljuk  yang berhasil memberikan tekanan yang kuat kepada kekuasaan Kekaisaran Byzantium yang beragama kristen Ortodoks Timur.
Titik balik lain yang berpengaruh terhadap pandangan Barat kepada Timur adalah ketika pada 1009, kalifah bani Fatimiah, Al- Hakim bin-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Kudus (Church of the Holly Sepulchre). Penerusnya memperbolehkan kekaisaran Byzantium untuk membangun Gereja itu kembali dan memperbolehkan para peziarah di tempat itu lagi. Akan tetapi, banyak laporan yang beredar di Barat tentang kekejaman Kaum Muslim terhadap peziarah Kristen. Laporan didapati dari para peziarahyang pulang ini kemudian memainkan peranan penting dalam perkembangan Perang Salib pada kahir abad itu.
 
Kronologi Perang Salib

Perang salib pada hakikatnya bukan perang agama, melainkan perang merebutkan kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara salib dan tentara muslim saling bertukar ilmu pengetahuan. Perang salib berpengaruh sangat luas terhadap aspek-aspek politik, ekonomi dan sosial, yang mana beberapa bahkan masih berpengaruh sampai masa kini.Karena konflik internal,antara kerajaan-kerajaan Kristen, dan kekuatan-kekuatan politik,beberapa ekspedisi perang salib (seperti Perang Salib VII) bergeser dari tujuan semulanya dan berakhir dengan dijarahnya kota Kristen, Termasuk Ibu Kota Byzantium, Konstantinopel- kota yang paling maju dan kaya di benua Eropa saat itu.
Penyebab langsung Perang Salib
Penyebab langsung perang salib I adalah permohonan kaisar Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk menolong kekaisaran Byzantium dan menahan laju invasi tentara Muslim ke dalam wilayah kekaisaran tersebut. Hal ini dilakukan karena sebelumnya pada 1071, kekaisaran Byzantium telah dikalahkan oleh pasukan seljuk yang dipinpin oleh sultan Alp Arselen di pertempuran Manzikert, yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit. Dalam peristiwa ini pasukan seljuk berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 40.000 orang, terdiri atas tentara romawi, Ghus, al-Hajr, Prancis dan Armania.
Kekalahan ini berujung pada dikuasainya hampir seluruh wilayah Asia kecil (sekarang Turki). Meskipun pertentengan Timur-Barat sedang berlangsung antara gereja Katolik Barat dengan gereja Ortodoks Timur, Alexius I mengharapkan respon yang positif atas permohonannya. Bagaimana pun, respon yang didapat amat besar dan hanya sedikit bermafaat bagi Alexius I.
Pausmenyerbu bagai kekuatan invasi yang besar bukan saja untuk mempertahankan kekaisaran Byzantium, tetapi unuk merenut kembalinya Yerusalem, setelah Dinasti Seljuk dapat merebut Beitul Maqdis pada 1078 dari kekuasaan Dinasti Fatimiah yang berkedudukan di Mesir.umat Kristen merasa tidak lagi bebas beribadah sejak Dinasti Seljuk menguasai Baitul Maqdis.
Ketika perang salib I didengungkan pada 27 November 1095, para pangeran kristen dari Iberia sedang bertempur untuk keluar dari Pegunungan Galacia dan Asturia, wilayah basque dan Navarre, dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, selama seratus tahun. Kejatuhan bangsa Moor-Toledo kepada kerajaan Leon pada 1085 adalah kemenangan yang besar yang penting dan kaum kristen yang meninggalkan para wanita di garis belakang amat sulit untuk di kalahkan. Mereka tidak mengenal hal lain selain bertempur. Mereka tidak memiliki teman atau perpustakaan untuk dipertahankan. Para kesatria Kristen ini merasa bahwa mereka bertempur di lingkungan asing yang di penuhi oleh orang kafir sehingga mereka dapat berbuat dan merusak sekehendak hatinya. Seluruh faktor ini kemudian akan dimainkan kembali di lapangan pertempuran di Timur. Para ahli sejarah sepanyol melihat bahwa reconquista adalah kekuatan besar dari karakter castilia, dengan perasaan bahwa kebaikan yang tertinggi adalah mati dalam pertempuran mempertahankan kekristenan suatu negara.



(Sumber : Buku Sejarah Eropa, karangan WAHYUDI DJAJA)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar