Saturday, November 3, 2012

KUTAI's KINGDOM

KERAJAAN KUTAI

1.    Di Luar Perhatian Cina

    Walaupun bukti-bukti yang  ada menunjukkan,bahwa kerajaan tertua di Indonesia terletak di Kalimantan,namun sedemikian jauh pulau tersebut sedikit sekali diperhatikan oleh para penulis tambo di daratan cina.hal ini cukup menarik,karena biasanya para penulis tambo cina rajin sekali menuliskan hal-hal aneh yang mereka ketahui dari suatu daerah asing.berita tertua cina yang bertalian dengan salah satu daerah Kalimantan,berasal dari zaman dinasti t’ang.padahal berita cina yang berhubungan dengan jawasuda ada sejak abad 5 dan sumatera pada awal abad 6,pada zaman pemerintahan dinasti Liang
    Tidak adanya perhatian dari pihak cina itu,kemungkinan sekali disebabkan karena Kalimantan tidak terletak pada jalan niaga cina yang utama.walaupun di daerah Sarawak misalnya,ditemukan beberapa buah benda yang berasal dari zaman dinasti Han yang mulai berkuasa pada tahun 220 SM.ternyata kurangnya perhatian terhadap sejarah daerah Kalimantan itu,terus melanjut di masa-masa sesudahnya sehingga di dalam keseluruhan sejarah kebudayaan Asia Tenggara misalnya,daerah ini masih tetap merupakan salah satu daerah yang terlupakan.
    Di daerah yang berada di luar jangkauan perhatian cina itulah,untuk pertama kalinya kita menemukan bukti-bukti tertua akan adanya suatu kehidupan masyarakat yang bercorak keindiaan,yaitu di Sulawesi dan di Kalimantan timur.
    Dengan ditemukan arca Buddha yang terbuat dari perunggu di semppaga,Sulawesi selatan.maka untuk pertama kalinya kita mendapatkan bukti  tentang adanya hubungan serta pengaruh tertua budaya india di Indonesia. Penemuan arca ini sangat penting karena dapat member petunjuk tentang bagaimana taraf hidup dan budaya bangsa Indonesia pada waktu tersebut.berdasarkan ciri-ciri  ikonografinya dapat ditentukan,bahwa arca sempaga ini berasal  dari mazhab seni armaravati dan rupanya dibuat ,kemudian dibawa ke Indonesia,mungkin sebagai barang dagangan.tetapi mungkin pula sebagai barang persembahan untuk sesuatu vihara atau bangunan suci agama Buddha.
    Selain di sempaga,arca-arca langgam Amaravati ini juga ditemukan antara lain di jember dan bukit seguntang ,sementara di kota bangun (kutai) ditemukan sejumlah arca Buddha yang memperlihatkan langgam seni arca Gandara.
    Disamping arca-arca Buddha juga ditemukan arca-arca yang memperlihatkan sifat-sifat kehinduan,diantaranya mukhalinga yang ditemukan di sepauk,dan arca ganesa yang ditemukan di Sarawak.walaupun daerah Kalimantan dan Sulawesi berada di luar perhatian orang cina,tetappi tidak berarti bahwa kedua daerah terrsebut tertutup samasekali dari kemungkinan mengadakan hubungan dengan daerah luar.temuan-temuan yang disebutkan diatas,merupakan salah satu buktinya.hubungan tersebut tentulah pada mulanya melalui hubungan niaga,yang kemudian berkembang menjadi hubungan agama dan budaya.melalui hubungan niaga itu ,turut pula para guru agama atau pendeta itu.hubungan seperti itu sudah berlangsung cukup lama di dalam proses terjadinya  hubungan timbal balik seperti itu.maka masyarakat  setemppat yang sudah menetap di beberapa daerah tertentu,menerima budaya dan peradaban baru itu.
2.    Negara tujuh buah yupa
    Di samping benda-benda berupa arca seperti yang disebut yang disebut kan diatas,dari daerah kalimantan ditemukan pula beberapa buah prasasti yang dipahatkan pada tiang batu.tiang batu disebut yupa.yaitu nama yang disebutkan pada prasasti-prasastinya sendiri.sampai saat ini telah ditemukan tujuh buah yupa.dan masih ada kemungkinan beberapa buah yupa yang lain belum ditemukan sampai di Kalimantan timur itu,yang mula-mula ditemukan cumalah sebanyak empat buah yupa saja.tetapi kemudian  tiga buah tiang yang lainnya ditemukan lagi.aksara yang dipahatkan pada yupa itu berasal dari awal abad ke 5 M,sedangkan bahasanya adalah bahasa sansekerta.semuanya dikeluarkan atas titah Mulawarman ,yang dapat dipastikan bahwa ia adalah seorang Indonesia asli,karena kakeknya masih mempergunakan nama Indonesia asli,kundunga.
    Prasasti yang menyebutkan sislsilah Mulawarman,raja terbesar di daerah kutai purba itu,berbunyi sebagai berikut ;
1.    Srimatah sri-narendrasah,
2.    Kundungasya mahatmanah,
3.    Putro svavarmmo,
4.    Vansakartta yathansuman,
5.    Tasya putra mahatmanah,
6.    Trayas traya ivagnayah,
7.    Teas trayanam pravarah,
8.    Tapo-bala-damanvitah,
9.    Sri mulawarmma rajendro,
10.   Yastva bahusavarnnakam,
11.   Tasya yajnasya yupo yam,
12.   Dvejendrais samprakalpitah.
“Sang Maharaja Kundunga, yang amat mulia, mempunyai putra yang masyur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Ansuman ( dewa matahari), menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api ( yang suci ) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu adalah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang mulawarmman telah mengadakan kenduri ( selamatan yang dinamakan ) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri ( selamatan ) itulah tugu ini didirikan oleh brahmana”
    Dari prasasti itu dapat kita ketahui ,bahwa sedikitnya ada tiga angkatan dalam keluarga,dimulai dengan raja kundunga yang mempunyai anak yang bernama Aswawarman dan Aswawarman yang mempunyai tiga orang anak,seorang diantaranya bernama Mulawarman.
    Yang menarik dari prasasti ini adalah berita yang menyebutkan bahwa pendiri keluarga kerajaan adalah aswawarman dan bukan kundunga yang dianggap sebagai raja yang pertama.apakah pengertian wangsakarta dalam prasasti ini,ditunjukkan kepada pengertian keluarga yang sudah berbudaya india,yang antara lain ditandai dengan pemakaian nama yang berbau india? karena kundunga sendiri jelas bukan nama yang berbau india,maka walaupun ia memang disebutkan sebagai ayah Aswawarman dan pernah menjadi raja.jika kita ketahui,bahwa pada saat sekarang ada nama bugis yang mirip dengan kundunga,yaitu kadungga,barangkali tidak akan terrlalu jauh dari kebenaran,seandainya kundunga dianggap sebagai orang Indonesia asli yang untuk pertama kalinya menyentuh budaya india,tetapi belum menyatakan.di mulai dengan Aswawarman dan dilanjutkan oleh Mulawarman.ketika berhadapan dengan nama-nama yang sudah berbauu india,dan berdasarkan berita dari prasasti-prasastinya juga jelas,bahwa pada waktu itu agama yang dipelukpuun agama yang berasal dari india juga.
    Prasasti yang dikeluarkan oleh Mulawarman,berbunyi sebagai berikut :
1.    Srimad-viraja-kirtteh
2.    Rajnah sri mulavarmmanah punyam
3.    Srnvantu vipramukhyah
4.    Ye canye sadhavah purusah
5.    Bahudana-jivadanam 
6.    Sakalpavrksam sabhumidanan ca
7.    Yupo yan stahapito vipraih
    Dengarkan oleh kamu sekalian, Brahmana yang terkemuka, dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebaikan budi Sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah banyak sekali, seolah-olah sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa ( yang member segala keinginan ), dengan sedekah tanah ( yang dihadiahkan ). Berhubung dengan kebaikan itulah maka tugu ini didirikan oleh para brahmana ( buat peringatan ).peringatan ketiga berbunyi sebagai berikut :
1.    Sri-mulavarmmano rajnah
2.    Yad dattan tilla-parvvatam
3.    Sadipa-malaya sarddham
4.    Yupo yam likhitas tayoh
    Tugu ini ditulis buat ( peringatan ) dua ( perkara ) yang telah disedekahkan oleh Sang Raja Mulawarman, yakni segunung minyak ( kental ), dengan lampu serta malai bunga.masih ada lagi prasastinya yang lain berbunyi ;
1.    Srimato nrpamukhyasya
2.    Rajnah sri-mulawarmmanah
3.    Danam punyatame ksetre
4.    Yad dattam vaprakesvare
5.    Dvijatibhyongnikalpebhyah
6.    Vinsatir ggosahasrikam
7.    Tansya punyasya yupo yam
8.    Krto viprais ihagataih
    Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, ( bertempat ) di dalam tanah yang suci ( bernama ) waprakeswara. Buat ( peringatan ) akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini dibuat oleh brahmana yang datang ke tempat ini.
    Dari prasasti-prasastinya yang sudah ditemukan sampai saat ini,kita dapat mengetahui nama beberapa orang tokoh yang disebutkan,serta bagaimanakira-kira kehidupan keagamaan pada waktu itu.tetapi,sedemikian jauhh kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan dan keadaan masyarakat pada umumnya.
3.    Upacara Penghinduan
    Berdasarkan silsilahnya dapat dipastikan bahwa kundunga adalah seorang Indonesia asli,yang barangkali untuk pertama kalinya tersentuh oleh pengaruh budaya india.tetapi sedemikian jauh,kundunga masih tetap mempertahankan keindonesiaannya dan itu pula rupanya yang menyebabkan ia tidak dianggap pendiri keluarga raja.dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian “keluarga raja” pada waktu itu terbatas kepada keluarga raja kerajaan yang telah menyerap budaya india di dalam kehiduupan sehari-harinya.
    Mengingat kehidupan yang bersifat hindu sangat ketat terikat kepada peraturan yang disebut kasta.di dalam kepercayaan hindu seseorang yang telah tercemar dan karenanya dikeluarkan dari kasta,dapat diterima kembali masuk ke dalam kastanya,setelah melalui upacara penyucian diri yang disebut vratyastoma.upacara vratyastoma inilah yang rupanya dijadikan jalan oleh orang-orang Indonesia yang sudah terkeena pengaruh india itu,untuk meresmikannya sebagai anggota masyarakat suatu kasta yang dikenal di dalam kasta itu,dilakukan dengan memperhatikan kedudukan asal orang yang bersangkutan.
4.    Kehidupan masyarakat dan agama
    Dari semua prasasti yang ada,hamper tidak ada kemungkinan untuk mengungkapkan bagaimana kira-kira kehidupan masyarakat pada zaman kerajaan kuutai purba ini.hal ini disebabkan karena prasasti-prasasti itu boleh dikatakan tidak sedikit pun berbicara tentang masyarakatnya.tetapi tidak berarti bahwa kita samasekali tidak dapat membayangkan bagaimana kkeadaan masyarakat tersebut.mengingat bahwa bahasa sansekerta pada dasarnya bukanlah bahasa rakyat india sehari-hari,tetapi lebih merupakan bahasa resmi untuk masalah-masalah keagamaan,dapat disimpulkan bahwa ketika itu dikutai purba sudah ada golongan masyarakat yang menguasai bahasa sansekerta.ini berarti bahwa kaum brahmana pada masa itu sudah merupakan suattu golongan tersendiridi dalam masyarakat kutai purba.golongan yang lain adalah kaum ksatrya yang terdiri dari kaum kerabat Mulawarman.golongan ini sampai pada masa tersebut rupanya masih terbatas kepada orang-orang yang sangat erat hubungan dengan raja saja.di luar kedua golongan yang secara resmi hidup dalam suasana peradaban india itu,masih terdapat golongan lain yang boleh dikatakan berada di luar pengaruh india.meraka adalah rakyat kutai purba pada umumnya terdiri penduduk setempat dan masih memegang teguh agama asli leluhur mereka.




    Berlainan dengan tentang masyarakatnya kita lebih banyak tahu tentang kehiduupan keagamaan pada zaman Mulawarman.ini disebabkan karena semua prasasti yang telah ditemukan sampai saat ini,membicarakan upacara selamatan di dalam memperingati salah satu kebaikan atau pekerjaan yang dilakukan oleh Mulawarman.disebutkannya Ansuman yaitu dewa matahari di dalam agama hindu,memberikan kepastian kepada kita bahwa setidaknya Mulawarman adalah penganut agama hindu.petunjuk ini lebih jalas karena di dalam prasastinya yang lain disebutkan upacara sedekah yang dilakukan oleh Mulawarman bertempat di sebidang tanah yang di anggap suci.bidang tanah suci bidang tanah suci yang disebut pada prasastiitu bernama Waprakeswara yang kemudian di kenal kembali di pulau jawa sebagai sebagai baprakeswara yang dinamakan dengan dewa besar tiga yakni brahma-wisnu-siwa.dengan keterangan pendek ini kita mendapat keyakinan bahwa agama yang dipeluk oeh sang Mulawarman adalah agama siwa.dari semua prasastinya dapat di duga,bahwa Mulawarman adalah seorang raja yang sangatt baik hubungannya dengan kaum brahmana.

SEJARAH SUKU SUNDA Indonesia

SEJARAH SUKU SUNDA 

I.Latar Belakang Masalah

Suku Bangsa di Indonesia sangatlah banyak jumlahnya serta tersebar dari ujung Pulau We hingga Merauke di Papua serta melintang dari ujung Pulau Miangas di utara hingga Pulau Rote di selatan.
Melihat realita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural maka akan terlihat pula adanya berbagai suku bangsa di Indonesia. Tiap suku bangsa inilah yang kemudian mempunyai ciri kahas kebudayaan yang berbeda- beda. Suku Sunda merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Jawa. Sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia, suku Sunda memiliki kharakteristik yang membedakannya dengan suku lain. Keunikan kharakteristik suku Sunda ini tercermin dari kebudayaan yang mereka miliki baik dari segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya.

Adapun dalam makalah ini akan menjelaskan secara singkat mengenai Sejarah salah satu suku bangsa Indonesia yang ada di dataran Jawa,tepatnya di Jawa Barat yakni suku “Sunda”. Suku Sunda dengan sekelumit kebudayaannya merupakan salah satu hal yang menarik untuk dipelajari untuk mengenal bagaimana suku Sunda serta Kebudayaannya

Pendahuluan
Luas daerah Jawa Barat (Ranah Pasundan)  mencapai 4417.000 ha atau sekitar 35% dari luas pulau Jawa dan Madura.Daerah ini berbatasan dengan DKI Jakarta dan Laut Jawa di Timur,disebelah selatan dan barat berbatasan dengan Samudra Indonesia dan Selat Sunda yang memisahkan PUlau Jawa dan Pulau Sumatra.Letak geografis berdasarkan garis lintang berada pada 5º 50’ lintang utara - 7º 60’ lintang selatan dan 104˚ 48’ bujur barat - 108˚ 48’ Bujur timur.Sepanjang Pantai Utara terhampar dataran rendah ,selanjutnya mengarah ke Selatan bersambung dengan dataran tinggi yang bergunung gunung yang berkelanjutan terus ke pedalaman sampai ke Pantai Selatan yang legendaris dan mitologi itu dengan Putri imajinernya' yang konon cantik tiada tara, Ratu Kidul. Pada umumnya Tanah Sunda subur dan hawa di sepanjang Pantai Utara panas tetapi ke pedalaman di dataran tinggi sejuk .
               Tanah Sunda dapat dibagi menjadi empat bagian.yang pertama,daerah epanjang pantai Utara dinamakan Daerah Hamparan Jakarta(Zone Jakarta). Bagian yang kedua merupakan daerah yang membentang dari Rangkasbitung melintasi Bogor, Purwakarta, Subang,Sumedang sampai Indramayu disebut Daerah Hamparan Bogor (Zone Bogor).Bagian yang ketiga adalah daerah bentangan Gunung Berapi yang diapit oleh Zone Bogor dan Zone Pegunungan Selatan yang disebut Daerah Hamparan Bandung (Zone Bandung).Tentang daerah ini ada beberapa cerita yang menyebut-nyebut Danau purba yang maha luas (Bandung) dengan sebutan Leuwi Sipatahunan (Situ Sipatahunan).Merupakan suatu kenyataan pula bahwan dataran tinggi Bandung kini terdapat endapan lempung yang dilapisi oleh endapan danau purba yang merupakan bukti bahwa Bandung merupakan areal danau yang mongering.
1.Sejarah Suku Sunda
    Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, dan Lampung. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama islam. akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama kristen, Hindu, dan Sunda Wiwitan/Jati Sunda. Agama Sunda Wiwitan
masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat suku Baduy di Lebak Banten yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.
Sejarah suku Sunda dapat dibedakan menjadi dua masa yakni: Jaman Praehistori dan Jaman Histori.Demikian pula peninjauan terhadap sejarah Tanah Sunda atau Pasundan yang kini dikenal dengan Jawa Barat pada Jaman Praehistori dari masa ini tidak terdapat peninggalan-peninggalan yang terang berupa tulisan baik pada batu,daun lontar atau kuningan dan lain sebagainya.Jaman histori Sunda dimulai sejarahnya dengan adanya batu bertulis di sungai Ciaeuruten,Bogor yang menyatakan adanya suatu kerajaan Hindu bernama Tarumanegara.
Menurut Rouffaer (1905: 16) menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari akar kata ‘sund’ atau kata ‘suddha’ dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219). Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas).Sedangkan menurut bahasa Sunda dapat diartikan: bagus,indah,cantik,unggul,dan menyenangkan.
Sejarah suku Sunda dapat dibedakan menjadi dua masa yakni: Jaman Praehistori dan Jaman Histori.Demikian pula peninjauan terhadap sejarah Tanah Sunda atau Pasundan yang kini dikenal dengan Jawa Barat pada Jaman Praehistori dari masa ini tidak terdapat peninggalan-peninggalan yang terang berupa tulisan baik pada batu,daun lontar atau kuningan dan lain sebagainya.Jaman histori Sunda dimulai sejarahnya dengan adanya batu bertulis di sungai Ciaeuruten,Bogor yang menyatakan adanya suatu kerajaan Hindu bernama Tarumanegara.
Menurut Rouffaer (1905: 16) menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari akar kata ‘sund’ atau kata ‘suddha’ dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219). Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas).Sedangkan menurut bahasa Sunda dapat diartikan: bagus,indah,cantik,unggul,dan menyenangkan
1.1 Sunda mendapat Pengaruh dari Jawa 

Menurut Bernard Vlekke, sejarawan terkenal, Jawa Barat merupakan daerah yang terbelakang di pulau Jawa hingga abad 11. Kerajaan-kerajaan besar bangkit di Jawa Tengah dan Jawa Timur namun hanya sedikit yang berubah di antara suku Sunda. Walaupun terbatas, pengaruh Hindu di antara orang-orang Sunda tidak sekuat pengaruhnya seperti di antara orang-orang Jawa. Kendatipun demikian, sebagaimana tidak berartinya Jawa Barat, orang Sunda memiliki raja pada zaman Airlangga di Jawa Timur, kira-kira tahun 1020. Tetapi raja-raja Sunda semakin berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Jawa yang besar. Kertanegara (1268-92) adalah raja Jawa pada akhir periode Hindu di Indonesia. Setelah pemerintahan Kertanegara, raja-raja Majapahit memerintah hingga tahun 1478 tetapi mereka tidak penting lagi setelah tahun 1389. Namun, pengaruh Jawa ini berlangsung terus dan memperdalam pengaruh Hinduisme terhadap orang Sunda
 1.2 Sunda Jaman Kerajaan Padjajaran
Pada tahun 1333, hadir kerajaan Pajajaran di dekat kota Bogor sekarang. Kerajaan ini dikalahkan oleh kerajaan Majapahit di bawah pimpinan perdana menterinya yang terkenal, Gadjah Mada. Menurut cerita romantik Kidung Sunda, putri Sunda hendak dinikahkan dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit. Namun, Gadjah Mada menentang pernikahan ini dan setelah orang-orang Sunda berkumpul untuk acara pernikahan, ia mengubah persyaratan. Ketika raja dan para bangsawan Sunda mendengar bahwa sang putri hanya akan menjadi selir dan tidak akan ada pernikahan seperti yang telah dijanjikan, mereka berperang melawan banyak rintangan tersebut hingga semuanya mati. Meski permusuhan antara Sunda dan Jawa berlangsung selama bertahun-tahun setelah episode ini (dan mungkin masih berlangsung), tetapi pengaruh yang diberikan oleh orang Jawa tidak pernah berkurang terhadap orang Sunda.

Hingga saat ini, Kerajaan Pajajaran dianggap sebagai kerajaan Sunda tertua. Sungguhpun kerajaan ini hanya berlangsung selama tahun 1482-1579, banyak kegiatan dari para bangsawannya dikemas dalam legenda. Siliwangi, raja Hindu Pajajaran, digulingkan oleh komplotan antara kelompok Muslim Banten, Cirebon dan Demak, dalam persekongkolan dengan keponakannya sendiri. Dengan jatuhnya Siliwangi, Islam mengambil alih kendali atas sebagian besar wilayah Jawa Barat. Faktor kunci keberhasilan Islam adalah kemajuan kerajaan Demak dari Jawa Timur ke Jawa Barat sebelum tahun 1540. Dari sebelah timur menuju ke barat, Islam menembus hingga ke Priangan (dataran tinggi bagian tengah) dan mencapai seluruh Sunda.
1.3 Sunda dan Kemajuan Islam
Orang Muslim telah ada di Nusantara pada awal tahun 1100 namun sebelum Malaka yang berada di selat Malaya menjadi kubu pertahanan Muslim pada tahun 1414, pertumbuhan agama Islam pada masa itu hanya sedikit. Aceh di Sumatra Utara mulai mengembangkan pengaruh Islamnya kira-kira pada 1416. Sarjana-sarjana Muslim menahan tanggal kedatangan Islam ke Indonesia hingga hampir ke zaman Muhammad. Namun beberapa peristiwa yang mereka catat mungkin tidak penting.

Kedatangan Islam yang sebenarnya tampaknya terjadi ketika misionaris Arab dan Persia masuk ke pulau Jawa pada awal tahun 1400 dan lambat laun memenangkan para mualaf di antara golongan yang berkuasa
1.4 Sunda dan Kejatuhan Majapajit 

Sebelum 1450, Islam telah memperoleh tempat berpijak di istana Majapahit di Jawa Timur. Van Leur memperkirakan hal ini ditolong oleh adanya disintegrasi budaya Brahma di India. Surabaya (Ampel) menjadi pusat belajar Islam dan dari sana para pengusaha Arab yang terkenal meluaskan kekuasaan mereka. Jatuhnya kerajaan Jawa yaitu kerajaan Majapahit pada tahun 1468 dikaitkan dengan intrik dalam keluarga raja karena fakta bahwa putra raja, Raden Patah masuk Islam. Tidak seperti pemimpin-pemimpin Hindu, para misionaris Islam mendorong kekuatan militer supaya memperkuat kesempatan-kesempatan mereka. Memang tidak ada tentara asing yang menyerbu Jawa dan memaksa orang untuk percaya. Namun dipergunakan kekerasan untuk membuat para penguasa menerima iman Muhammad. Baik di Jawa Timur maupun Jawa Barat, pemberontakan dalam keluarga-keluarga raja digerakkan oleh tekanan militer Islam. Ketika para bangsawan berganti keyakinan, maka rakyat akan ikut. Meskipun demikian, kita harus mengingat apa yang ditunjukkan Vlekke bahwa perang-perang keagamaan jarang terjadi di sepanjang sejarah Jawa. 
1.5 Pengaruh Demak di Tanah Sunda 
Raden Patah menetap di Demak yang menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa. Ia mencapai puncak kekuasaannya menjelang 1540 dan pada waktunya menaklukkan suku-suku hingga ke Jawa Barat. Bernard Vlekke mengatakan bahwa Demak mengembangkan wilayahnya hingga Jawa Barat karena politik Jawa tidak begitu berkepentingan dengan Islam. Pada waktu itu, Sunan Gunung Jati, seorang pangeran Jawa, mengirim putranya Hasanudin dari Cirebon untuk mempertobatkan orang-orang Sunda secara ekstensif. Pada 1526, baik Banten maupun Sunda Kelapa (Jakarta) berada di bawah kontrol Sunan Gunung Jati yang menjadi sultan Banten pertama. Penjajaran Cirebon dengan Demak ini telah menyebabkan Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Islam. Pada kuartal kedua abad 16, seluruh pantai utara Jawa Barat berada di bawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam dan penduduknya telah menjadi Muslim. Karena menurut data statistik penduduk tahun 1780 terdapat kira-kira 260.000 jiwa di Jawa Barat, dapat kita asumsikan bahwa pada abad ke-16 jumlah penduduk jauh lebih sedikit. Ini memperlihatkan bahwa Islam masuk ketika orang-orang Sunda masih merupakan suku kecil yang berlokasi terutama di pantai- pantai dan di lembah-lembah sungai seperti Ciliwung, Citarum dan Cisadane.


1.6 Sunda masa Kolonialisme Belanda

Sebelum kedatangan Belanda di Indonesia pada 1596, Islam telah menjadi pengaruh yang dominan di antara kaum ningrat dan pemimpin masyarakat Sunda dan Jawa. Secara sederhana, Belanda berperang dengan pusat-pusat kekuatan Islam untuk mengontrol perdagangan pulau dan hal ini menciptakan permusuhan yang memperpanjang konflik perang Salib masuk ke arena Indonesia. Pada 1641, mereka mengambil alih Malaka dari Portugis dan memegang kontrol atas jalur-jalur laut. Tekanan Belanda terhadap kerajaan Mataram sangat kuat hingga mereka mampu merebut hak- hak ekonomi khusus di daerah pegunungan (Priangan) Jawa Barat. Sebelum 1652, daerah-daerah besar Jawa Barat merupakan persediaan mereka. Ini mengawali 300 tahun eksploitasi Belanda di Jawa Barat yang hanya berakhir pada saat Perang Dunia kedua.
         
     Peristiwa-peristiwa pada abad 18 menghadirkan serangkaian kesalahan Belanda dalam bidang sosial, politik dan keagamaan. Seluruh dataran rendah Jawa Barat menderita di bawah persyaratan-persyaratan yang bersifat opresif yang dipaksakan oleh para penguasa lokal. Contohnya adalah daerah Banten. Pada tahun 1750, rakyat mengadakan revolusi menentang kesultanan yang dikendalikan oleh seorang wanita Arab, Ratu Sjarifa. Menurut Ayip Rosidi, Ratu Sjarifa adalah kaki tangan Belanda. Namun, Vlekke berpendapat bahwa "Kiai Tapa," sang pemimpin adalah seorang Hindu dan bahwa pemberontakan itu lebih diarahkan kepada pemimpin-pemimpin Islam daripada kolonialis Belanda. (Sulit untuk melakukan rekonstruksi sejarah dari beberapa sumber karena masing- masing golongan memiliki kepentingan sendiri yang mewarnai cara pencatatan kejadian).
2.Tata Bahasa Sunda
Bahasa Sunda yang merupakan bahasa ibu sebagian besar penduduk Jawa Barat termasuk kedalam golongan bahasa afiksasi,bukan bahsa fleksi.Posisi urutan kata dalam kalimat serta imbuhan gramatikal sangat berperanan dalam bahasa ini ; yang paling istimewa lagi adalah lagu yang bertekanan nada serta sangat kaya dengan fonema.Dalam bahasa fleksi seperti misalnya bahasa Jerman,perubahan kata sangat menetukan arti ;sedangkan dalam bahasa Sunda ,imbuhan yang terdiri atas Rarangkeun hareup (awalan), Rarangkeun tengah (sispan dan Rarangkeun tukang (akhiran) disertai letak atau urutan kata sangat berperanan dalam menentukan arti.Contoh kata serat (tulis).Terhadap kata ini kita dapat menambahkan ketiga macam imbuhan;nyerat = menulis,sinerat = ditulis,seratkeun = tuliskan  dan sebagainya.
                       Bahasa Sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu :
           a.Bahasa Sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
           b.Bahasa Sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya.
           c.Bahasa Sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
3.Kebudayaan dan Kesenian Suku Sunda

Kebudayaan Sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Kebudayaan- kebudayaan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :
        
          3.1 Kesenian Kirab Helaran

Kirab helaran atau yang disebut sisingaan adalah suatu jenis kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan dalam bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan pada acara khitanan atau acara-acara khusus seperti ; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan hari-hari besar lainnya. Seperti yang diikuti ratusan orang dari perwakilan seluruh kelurahan di Cimahi, yang berupa arak-arakan yang pernah digelar pada saat Hari Jadi ke-6 Kota Cimahi. Kirap ini yang bertolak dari Alun-alun Kota Cimahi menuju kawasan perkantoran Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Demang Hardjakusumah itu, diikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat yang menyajikan seni budaya Sunda, seperti sisingaan, gotong gagak, kendang rampak, calung, engrang, reog, barongsai, dan klub motor.

3.2 Pencak Silat Cikalong

Pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan menyebutnya “Maempo Cikalong”. Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya.
Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan dll.

3.3 Seni Tari

a.Tari Jaipongan
Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan.

b.Tari Ketuk Tilu
Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.
3.4 Seni Musik dan Suara

Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya. Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari.Dibawah ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda :
1.      Bubuy Bulan
2.      Es Lilin
3.      Manuk Dadali
4.      Tokecang
5.      Warung Pojok

3.5 Wayang Golek

Jepang boleh terkenal dengan ‘Boneka Jepangnya’, maka tanah Sunda terkenal dengan kesenian Wayang Golek-nya. Wayang Golek adalah pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong, pementasan Wayang Golek diiringi musik Degung lengkap dengan Sindennya. Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara hiburan, pesta pernikahan atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun unik, yaitu pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga pukul 04.00 pagi. Cerita yang dibawakan berkisar pada pergulatan antara kebaikan dan kejahatan (tokoh baik melawan tokoh jahat). Ceritanya banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India, seperti Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita mengambil nama-nama dari tanah India.Dalam Wayang Golek, ada ‘tokoh’ yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Dawala dan Cepot. Tokoh-tokoh ini digemari karena mereka merupakan tokoh yang selalu memerankan peran lucu (seperti pelawak) dan sering memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang pintar akan memainkan tokoh tersebut dengan variasi yang sangat menarik.

3.6 Kesenian Kuda Renggong

Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.
3.7 Alat Musik

a.Calung
Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

b.Angklung
Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional

c.Kecapi Suling
Kacapi Suling adalah salah satu jenis kesenian Sunda yang memadukan suara alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di daerah Cianjur dan kemudian menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.
4.Sistem Kepercayaan

Hampir semua orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak beragama Islam, diantaranya orang-orang Baduy yang tinggal di Banten Tetapi juga ada yang beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha. Selatan. Praktek-praktek sinkretisme dan mistik masih dilakukan. Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk memelihara keseimbangan alam semesta.Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara-upacara adat, sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan saling memberi (gotong royong). Hal yang menarik dalam kepercayaan Sunda, adalah lakon pantun Lutung Kasarung, salah satu tokoh budaya mereka, yang percaya adanya Allah yang Tunggal (Guriang Tunggal) yang menitiskan sebagian  kecil diriNya ke dalam dunia untuk memelihara kehidupan manusia (titisan Allah ini disebut Dewata).  Ini mungkin bisa menjadi jembatan untuk mengkomunikasikan Kabar Baik kepada mereka.

4.1 Mantera-mantera Magis

Dalam penyembahan kepada ilah-ilah ini, sistem mantera magis juga memainkan peran utama berkaitan dengan kekuatan-kekuatan roh. Salah satu sistem tersebut adalah Ngaruat Batara Kala yang dirancang untuk memperoleh kemurahan dari dewa Batara Kala dalam ribuan situasi pribadi. Rakyat juga memanggil roh-roh yang tidak terhitung banyaknya termasuk arwah orang yang telah meninggal dan juga menempatkan roh-roh (jurig) yang berbeda jenisnya. Banyak kuburan, pepohonan, gunung- gunung dan tempat-tempat serupa lainnya dianggap keramat oleh rakyat. Di tempat-tempat ini, seseorang dapat memperoleh kekuatan-kekuatan supernatural untuk memulihkan kesehatan, menambah kekayaan, atau meningkatkan kehidupan seseorang dalam berbagai cara.

4.2 Dukun-dukun

Untuk membantu rakyat dalam kebutuhan spiritual mereka, ada pelaksana- pelaksana ilmu magis yang disebut dukun. Dukun-dukun ini aktif dalam menyembuhkan atau dalam praktek-praktek mistik seperti numerology (penomoran). Mereka mengadakan kontak dengan kekuatan-kekuatan supernatural yang melakukan perintah para dukun ini. Beberapa dukun ini akan melakukan black magic tetapi banyaknya adalah jika dianggap sangat bermanfaat bagi orang Sunda. Sejak lahir hingga mati hanya sedikit keputusan penting yang dibuat tanpa meminta pertolongan dukun. Kebanyakan orang mengenakan jimat-jimat di tubuh mereka serta meletakkannya pada tempat-tempat yang menguntungkan dalam harta milik mereka. Beberapa orang bahkan melakukan mantera atau jampi-jampi sendiri tanpa dukun. Kebanyakan aktivitas ini terjadi di luar wilayah Islam dan merupakan oposisi terhadap Islam. Tetapi orang-orang ini tetap dianggap sebagai Muslim.
5.Stratifikasi Dalam Masyarakat Sunda

Masyarakat Jawa Barat, yaitu masyarakat Sunda, mempunyai ikatan keluarga yang sangat erat. Nilai individu sangat tergantung pada penilaian masyarakat. Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan, seperti terhadap perkawinan, pekerjaan, dll., seseorang tidak dapat lepas dari keputusan yang ditentukan oleh kaum keluarganya. Dalam masyarakat yang lebih luas, misalnya dalam suatu desa, kehidupan masyarakatnya sangat banyak dikontrol oleh pamong desa. Pak Lurah dalam suatu desa merupakan “top leader” yang mengelola pemerintahan setempat, berikut perkara-perkara adat dan keagamaan. Selain pamong desa ini, masih ada golongan lain yang dapat dikatakan sebagai kelompok elite, yaitu tokoh-tokoh agama. Mereka ini turut selalu di dalam proses pengambilan keputusan-keputusan bagi kepentingan kehidupan dan perkembangan desa yang bersangkutan. Paul Hiebert dan Eugene Nida, menggambarkan struktur masyarakat yang demikian sebagai masyarakat suku atau agraris.

Perbedaan status di antara kelompok elite dengan masyarakat umum dapat terjadi berdasarkan status kedudukan, pendidikan, ekonomi, prestige sosial dan kuasa. Robert Wessing, yang telah meneliti masyarakat Jawa Barat mengatakan bahwa ada kelompok “in group” dan “out group” dalam struktur masyarakat. Kaum memandang sesamanya sebagai “in group” sedang di luar status mereka dipandang sebagai “out group.

W.M.F. Hofsteede, dalam disertasinya Decision-making Process in Four West Java Villages (1971) juga menyimpulkan bahwa ada stratifikasi masyarakat ke dalam kelompok elite dan massa. Elite setempat terdiri dari lurah, pegawai-pegawai daerah dan pusat, guru, tokoh-tokoh politik, agama dan petani-petani kaya. Selanjutnya, petani menengah, buruh tani, serta pedagang kecil termasuk pada kelompok massa. Informal leaders, yaitu mereka yang tidak mempunyai jabatan resmi di desanya sangat berpengaruh di desa tersebut, dan diakui sebagai pemimpin kelompok khusus atau seluruh desa.

Hubungan seseorang dengan orang lain dalam lingkungan kerabat atau keluarga dalam masyarakat Sunda menempati kedudukan yang sangat penting. Hal itu bukan hanya tercermin dari adanya istilah atau sebutan bagi setiap tingkat hubungan itu yang langsung dan vertikal (bao, buyut, aki, bapa, anak, incu) maupun yang tidak langsung dan horisontal (dulur, dulur misan, besan), melainkan juga berdampak kepada masalah ketertiban dan kerukunan sosial. Bapa/indung, aki/nini, buyut, bao menempati kedudukan lebih tinggi dalam struktur hubungan kekerabatan (pancakaki) daripada anak, incu, alo, suan. Begitu pula lanceuk (kakak) lebih tinggi dari adi (adik), ua lebih tinggi dari paman/bibi. Soalnya, hubungan kekerabatan seseorang dengan orang lain akan menentukan kedudukan seseorang dalam struktur kekerabatan keluarga besarnya, menentukan bentuk hormat menghormati, harga menghargai, kerjasama, dan saling menolong di antara sesamanya, serta menentukan kemungkinan terjadi-tidaknya pernikahan di antara anggota-anggotanya guna membentuk keluarga inti baru.

Pancakaki dapat pula digunakan sebagai media pendekatan oleh seseorang untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya. Dalam hubungan ini yang lebih tinggi derajat pancakaki-nya hendaknya dihormati oleh yang lebih rendah, melebihi dari yang sama dan lebih rendah derajat pancakaki-nya.

6.Sistem Mata Pencaharian

Suku Sunda umumnya hidup bercocok tanam. Kebanyakan tidak suka merantau atau hidup berpisah dengan orang-orang sekerabatnya. Kebutuhan orang Sunda terutama adalah hal meningkatkan taraf hidup. Menurut data dari Bappenas (kliping Desember 1993) di Jawa Barat terdapat 75% desa miskin. Secara umum kemiskinan di Jawa Barat disebabkan oleh kelangkaan sumber daya manusia. Maka yang dibutuhkan adalah pengembangan sumber daya manusia yang berupa pendidikan, pembinaan, dll.
                       
                      Adapun mata pencaharian masyarakat Sunda dapat dibedakan menjadi :
           Mata pencaharian pokok masyarakat Sunda adalah
           1. Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet, dan kina.
           2. Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran.
           3. Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau.
            Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga yang bermata 
pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, dan peternak.

        7. ADAT ISTIADAT
           
          UPACARA ADAT PERKAWINAN SUKU SUNDA

Adat Sunda merupakan salah satu pilihan calon mempelai yang ingin merayakan pesta pernikahannya. Khususnya mempelai yang berasal dari Sunda. Adapun rangkaian acaranya dapat dilihat berikut ini.
  1. Nendeun Omong, yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat mempersunting seorang gadis.
  2. Lamaran. Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga dekat. Disertai seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara. Bawa lamareun atau sirih pinang komplit, uang, seperangkat pakaian wanita sebagai pameungkeut (pengikat). Cincin tidak mutlak harus dibawa. Jika dibawa, bisanya berupa cincing meneng, melambangkan kemantapan dan keabadian.
  3. Tunangan. Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis.
  4. Seserahan (3 – 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.
  5. Ngeuyeuk seureuh (opsional, Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah.)
    • Dipimpin pengeuyeuk.
    • Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.
    • Diiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk
    • Disawer beras, agar hidup sejahtera.
    • dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat bekerja.
    • Membuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
    • Membelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri.
    • Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria).
  6. Membuat lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan.
  7. Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga.
  8. Upacara Prosesi Pernikahan
    • Penjemputan calon pengantin pria, oleh utusan dari pihak wanita
    • Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.
    • Akad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan menandatangani surat nikah.
    • Sungkeman,
    • Wejangan, oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.
    • Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
    • Meuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria.
    • Nincak endog, pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin wanita.
                 Buka pintu. Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan.

        4. SISTEM KEKERABATAN
   
Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat parental, garis keturunan ditarik dari pihak ayah dan ibu bersama. Dalam keluarga Sunda, ayah yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda.Dalam suku Sunda dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara yang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya. Dalam bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan.

Sunggal WAR INDONESIA

Perang Sunggal, Perang Terlama diIndonesia


'Perang Sunggal' merupakan salah satu peristiwa sejarah dalam perjalanan bangsa
Indonesia menuju kemerdekaannya. Perang ini adalah perjuangan rakyat Sunggal
dalam mempertahankan tanah tumpah darahnya dari penguasaan tangan penjajahan
Belanda. Wilayah Sunggal (Serbanyaman) yang sangat subur ketika itu ingin
dikuasai oleh perusahaan perkebunan Belanda untuk ditanami tembakau. Penguasaan
itu tanpa seizin raja dan rakyat Sunggal sehingga timbullah peperangan. Perang
ini merupakan salah satu perang yang terbesar sehingga pemerintah Hindia
Belanda harus mengeluarkan 'Medali Khusus' untuk menghargai para pemimpin
perang ini dari pihak mereka. Hal itu diketahui dari catatan yang terdapat di
Museum KNIL, Bronbeek (Belanda.
Pemicu Perang
Ada dua tokoh pejuang yang terlibat secara langsung dalam 'Perang Sunggal' ini.
Keduanya berusaha mempertahankan Sunggal (Serbanyaman), tanah airnya, dari
penjajahan Belanda. Kedua tokoh itu ialah Datuk Badiuzzaman Johan Sri Indera
Surbakti dan Datuk Alang Muhammad Bahar Johan Sri Indera Surbakti. Datuk
Badiuzzaman Surbakti merupakan keturunan ke-7 dari Sesser Surbakti yang
asal-usulnya adalah dari Telun Kulu, Tanah Karo. Sedangkan Datuk Alang Muhammad
adalah adik Datuk Badiuzzaman. Keturunan pemerintah Sunggal bermula dari Sesser
Surbakti yang mempunyai putera bernama Si Gajah. Sesser Surbakti mendirikan
Kampung Sumbuwaiken di kaki Gunung Sibayak. Si Gajah mempunyai putera yang
bernama Adir Surbakti. Mereka bertempat tinggal di daerah Pancurbatu dan
kemudian memeluk agama Islam. Selanjutnya putera Adir Surbakti yang bernama
Datuk Hitam Surbakti menjadi Raja Sunggal pada 1632 dan seorang anak perempuan
yang bernama Nang Baluan kawin dengan Gocah Pahlawan, yang merupakan asal-usul
keturunan raja-raja Deli dan raja-raja Serdang. Datuk Hitam Surbakti mempunyai
dua orang anak yang laki-laki bernama Datuk Undan Surbakti dan yang perempuan
bernama Dayan Sermaidi yang kawin dengan Panglima Mangendar Alam, salah seorang
keturunan Sultan Deli.
Datuk Undan Surbakti berputerakan Datuk Amar Laut Surbakti yang pada masa
pemerintahannya melepaskan diri dari ikatan dengan Deli, mengeluarkan
cap/stempel dan bendera sendiri, dan meresmikan Sunggal merdeka serta
berpemerintahan sendiri. Datuk Amar Surbakti mempunyai tiga orang anak lelaki
yaitu Datuk Ahmad (Abdul Hamid) Surbakti, Datuk Jalil Surbakti, dan Datuk Kecil
(Mahini) Surbakti. Datuk Ahmad Surbakti inilah yang mengganti nama Sunggal
menjadi Serbanyaman. Putera Datuk Ahmad Surbakti ada tiga orang yaitu Datuk
Badiuzzaman Surbakti, Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti, dan Datuk Haji
Surbakti. Pada masa pemerintahan mereka ini di Serbanyamanlah terjadinya
'Perang Sunggal' tersebut.
Pemicu terjadinya 'Perang Sunggal' ini adalah masalah tanah. Pada 1870 Sultan
Mahmud Perkasa Alam (Sultan Deli) memberikan tanah yang subur di wilayah
Sunggal untuk dijadikan konsensi perkebunan perusahaan Belanda yang bernama De
Rotterdam dan Deli Maschapij. Pemberian tanah ini tanpa melalui perundingan
dengan penguasa serta rakyat wilayah Sunggal sehingga timbullah perlawanan
bersenjata. Pada 1872 Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya Datuk Alang
Muhammad Bahar Surbakti dengan didukung rakyat Serbanyaman (Sunggal) dan suku
Karo lainnya mulai mengadakan perlawanan dengan mengangkat senjata terhadap
Belanda. Ketika itu, Belanda didukung oleh Sultan Mahmud Perkasa Alam.
Perlawanan rakyat Serbanyaman (Sunggal) dilakukan rakyat dengan bergerilya
sambil membakar bangsal-bangsal tembakau di atas tanah rakyat yang dikuasai
oleh Belanda. Perang ini berlangsung sampai dengan 1895.
Datuk Badiuzzaman Surbakti sebagai Pahlawan Nasional
'Perang Sungal' ialah salah satu perang yang bertujuan untuk memperjuangkan
tanah air Indonesia agar merdeka dari tangan penjajahan Belanda. "Perang
Sunggal" ini berlangsung cukup lama yaitu lebih kurang selama 23 tahun, dari
1872 sampai dengan 1895. Apabila dibandingkan perang yang dilakukan oleh para
pahlawan kita di penjuru tanah air pada masa penjajahan Belanda, tampaklah
bahwa perang yang dilakukan oleh rakyat Sunggal di bawah pimpinan Datuk
Badiuzzaman Surbakti ini memakan waktu yang cukup lama dan berkepanjangan. Hal
itu bisa dibandingkan dengan beberapa perang lainnya menentang penjajahan
Belanda di Nusantara dulunya seperti perlawanan Sultan Agung di Mataram (1628)
Iskandar Muda di Aceh (1635), Ageng Tirta Yasa di Banten (1650), Hasanuddin di
Makasar (1653), Pattimura di Maluku (1817), Badaruddin di Palembang (1817),
Imam Bonjol di Minangkabau (1824-1837), Pangeran Diponegoro di Jawa
(1825-1830), Jelantik di Bali(1850), Pangeran Antasari di Kalimantan (1860),
Teuku Umar (1878-1899) di Aceh, Anak Agung Made di Lombok (1895),
Sisingamangaraja XII di Sumatera Utara (1900), dan Cut Nyak Din di Aceh
(1902-1904).
"Perang Sunggal" yang bermula pada 15 Mei 1872 di bawah pimpinan Datuk
Badiuzzaman Surbakti ini merupakan perang terhadap penjajahan Belanda yang
menunjukkan adanya nilai-nilai patriotisme, nasionalisme, dan rasa cinta tanah
air yang sangat besar. Oleh karena itulah, Datuk Badiuzzaman Surbakti ini
sangat pantas kiranya diangkat menjadi 'Pahlawan Nasional' karena beberapa
pertimbangan tertentu seperti berikut ini.
Pertama, Datuk Badiuzzaman Surbakti telah bangkit menentang penjajahan Belanda
dengan mengangkat senjata untuk berperang. Dalam hal ini, beliau dibantu oleh
adiknya Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti bersama paman-pamannya Datuk Abdul
Jalil, Datuk Muhammad Dini, serta Datuk Sulung Barat dengan didukung oleh
rakyat Sunggal dan masyarakat Karo lainnya. Perang ini cukup menyusahkan
Belanda karena banyaknya kerugian akibat bangsal tembakau milik perusahaan
Belanda yang dibakar masyarakat.
Kedua, Datuk Badiuzzaman Surbakti telah berjuang menentang penjajahan Belanda
dalam waktu yang cukup lama, lebih kurang 32 tahun, tanpa kenal lelah.
Perjuangannya ini 'murni dan tanpa pamrih' untuk mengusir penjajahan Belanda.
Kurun waktu perjuangan yang panjang seperti ini hampir boleh dikatakan tidak
ada yang menyaingi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia menentang
penjajahan. Perjuangan seperti ini pasti sangat melelahkan dan menimbulkan
korban jiwa dan harta yang 'tidak terhitung lagi jumlahnya'.
Ketiga, Datuk Badiuzzaman Surbakti dengan rakyatnya mati-matian mempertahankan
tanah tumpah darahnya. Saat itu, penjajah Belanda mau menguasai tanah yang ada
di daerah Sunggal untuk dijadikan perkebunan tembakau. Padahal dalam
Konfederasi Deli sudah diatur bahwa empat suku di Deli berkuasa di daerahnya
masing-masing. Jadi, perang ini bersifat mempertahankan kepentingan wilayah dan
tanah rakyat yang dirampas perkebunan Belanda. Perang ini bukanlah perang
agama, tetapi perang yang sifatnya nasionalis.
Keempat, Datuk Badiuzzaman Surbakti mempunyai sikap nonkompromi (tidak mau
bekerjasama) dengan penjajahan Belanda. Sikap seperti ini, yang sangat terpuji,
telah diperlihatkan beliau dalam perjuangan yang tanpa mengenal lelah selama 32
tahun itu sampai beliau dibuang seumur hidup ke Cianjur. Sikap seperti ini
pulalah yang telah dijadikan contoh teladan oleh adik, paman-paman, dan
rakyatnya di Sunggal di dalam menentang penjajahan Belanda. Akibatnya, mereka
pun ditangkap dan dihukum buang seumur hidup.
Kelima, Datuk Badiuzzaman Surbakti berhasil menghimpun kekuatan untuk menentang
penjajahan Belanda dengan dibantu oleh para pejuang dari berbagai macam etnik
seperti dari Karo, Melayu, Gayo, Aceh, dan Jawa eks tentara Belanda. Jadi,
perang ini tidak lagi mempunyai kepentingan pribadi, tetapi yang muncul adalah
kepentingan bersama. Artinya, 'Perang Sunggal' ini menjadi perang rakyat
semesta. Penghimpunan kekuatan seperti ini menunjukkan adanya rasa kesatuan,
persatuan, dan nasionalisme yang mendalam.
Perang ini mempunyai dua nama yaitu 'Perang Sunggal' dan 'Perang Batak'.
Penamaan 'Perang Sunggal' muncul karena perang ini terjadi di daerah Sunggal,
tempat tinggal masyarakat Melayu dan masyarakat Karo ketika itu. Perang ini
disebut Belanda juga dengan 'Perang Batak' atau Batak Oorlog karena medan
pertempurannya kebanyakan berada di pegunungan yang didiami oleh masyarakat
Batak-Karo. Penamaan ini mirip dengan 'Perang Diponegoro' yang berlangsung di
Jawa karena pemimpin perangnya ialah Pangeran Diponegoro. Perang ini disebut
juga oleh Belanda dengan 'Perang Jawa' atau Jawa Oorlog karena berlangsung di
Jawa. Persamaannya kedua perang ini sama-sama menentang penjajahan Belanda.
Sedangkan perbedaannya adalah: 1) Pangeran Diponegoro telah diangkat sebagai
'Pahlawan Nasional' sedangkan Datuk Badiuzzaman Surbakti sampai sekarang belum;
dan 2) Pangeran Diponegoro telah berperang melawan penjajah Belanda selama
lebih kurang lima tahun sedangkan Datuk Badiuzzaman Surbakti telah berperang
melawan penjajah Belanda selama lebih kurang 32 tahun.
Penutup
Kelima butir pertimbangan yang dapat ditarik dari perjuangan Datuk Badiuzzaman
Surbakti di atas menunjukkan kepada kita bahwa beliau adalah seorang pejuang
kemerdekaan yang gigih, ulet, dan pantang menyerah. Untuk itu, beliau pantas
menjadi contoh teladan dan dapat pula dijadikan sebagai panutan dalam
menjunjung tinggi rasa cinta tanah air. Dengan begitu, beliau sekarang bukan
hanya milik masyarakat Melayu di Sumatera Timur, tetapi sudah menjadi milik
nasional, milik bangsa Indonesia. Oleh karena itu menurut pengamatan kami,
sudah sepantasnyalah Datuk Badiuzzaman Surbakti ini dapat kita perjuangan
bersama-sama ke pemerintah Republik Indonesia untuk dapat kiranya diangkat
menjadi salah seorang 'Pahlawan Nasional'.
atuk Badiuzzaman Surba kti telah berperang melawan penjajah Belanda selama lebih kurang 32 tahun.